Dosen FSBK Menjadi Delegasi Sarasehan Keris “Cikal Sawiji Amancarupa” oleh Dinas Kebudayaan D.I.Yogyakarta
Kamis, 27 Agustus 2026 –Dosen Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. Ardiyanto Wardhana, S.Sos.,M.Si. turut berpartisipasi dalam Sarasehan Keris bertajuk “Cikal Sawiji Amancarupa” yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan ini digelar dalam rangka bulan warisan dunia “Manjung Ajur Ajer” di Grha Keris Yogyakarta.
Sarasehan tersebut mengangkat keris tidak hanya sebagai benda budaya, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah, identitas, filosofi, serta kehidupan sosial masyarakat Jawa. Tema “Cikal Sawiji Amancarupa” merefleksikan bagaimana satu gagasan atau nilai budaya dapat berkembang dan hadir dalam berbagai bentuk kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ardiyanto Wardhana, S.Sos.,M.Si. juga berkesempatan mengikuti pameran ”Tosan Aji Cikal Sawiji Amancarupa” dengan menghadirkan salah satu koleksi keris yang dimilikinya, yaitu keris ”Mundharang”. Menurut Dr. Ardiyanto Wardhana, S.Sos.,M.Si. tentang acara ini, ” Kegiatan ini merupakan sebuah medium edukasi visual serta bentuk komunikasi nonverbal yang kaya akan makna semiotika budaya. Setiap look, pamor, bilah keris dan gagang keris memuat kode-kode visual yang sarat akan pesan mendalam terkait status sosial, nilai spiritual, hingga pandangan hidup masyarakat pembuatnya. Di era digital saat ini, pameran tersebut hadir sebagai media retorika budaya yang sangat efektif untuk mengenalkan warisan tradisi kepada generasi muda/penerus melalui kemasan visual yang relevan”.
Keikutsertaan dosen FSBK UAD dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkaya perspektif akademik mengenai kebudayaan, khususnya dalam melihat relasi antara budaya, komunikasi, dan masyarakat. Forum sarasehan juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi mengenai berbagai tantangan dalam pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola interaksi masyarakat.
Selain itu, tujuan diadakannya sarasehan Cikal Sawiji Amancarupa ini adalah menjadi ruang saling memahami keberagaman. Yang mana keberagaman bukanlah perbedaan yang memisahkan, melainkan tumbuh dari akar nilai yang sama. Bagi kalangan akademisi, ruang dialog seperti sarasehan menjadi penting untuk mempertemukan pengetahuan budaya dengan perkembangan kehidupan masyarakat kontemporer. Dialog tersebut dapat menjadi langkah untuk mengembangkan cara-cara baru dalam mengomunikasikan warisan budaya kepada generasi muda, sehingga budaya tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat saat ini.


